Messi Seharusnya Mengumpat: Fuck You, Sepp Blatter!

by Pak Anggur

14 Juli 2014. Bulan puasa dan saya melewatkan makan sahur. Saya bahkan sangat tidak berniat untuk berpuasa hari ini. Saya teramat bersedih. Berkabung. Mungkin untuk sebagian orang alasan kesedihan saya sangatlah nonsens. Saya berduka untuk Argentina. Untuk Lionel Messi dan teman-temannya. Piala Dunia 2014 ini begitu terasa emosional.

1992. Saya adalah satu diantara ribuan anak di dunia yang sangat senang bermain sepakbola dan yaa, cuma gitu-gitu aja. Adalah tahun waktu saya mulai melek kabar sepakbola dunia. Sebagai anak SD dari keluarga biasa-biasa saja, adalah sangat beruntung saya bertetangga dengan keluarga kaya yang baik hati. Di masa itu, ketika tontonan sepakbola di televisi tidak banyak pilihan, keluaga tetangga itu berlangganan siaran via antena parabola. Mungkin tidak sengaja, sungguh saya masih sangat tidak mengerti bagaimana caranya, kadang dapat siaran sepakbola tidak umum, mungkin bocor atau bagaimana, dan di televisi itu tampil tulisan-tulisan dan komentar penyiar dalam bahasa yang saya tidak ingat, karena tidak mengerti, mungkin Perancis atau Spanyol. Disitulah pertama kali saya melihat Hristo Stoichkov. Iya, di FC Barcelona. Keingintahuan saya tentang sepakbola juga banyak diasup oleh Tabloid Bola, yang juga saya baca pinjam dari tetangga kaya itu.

2009. Adalah tahun yang sangat berbahagia. FC Barcelona menang 3 piala di akhir musim. Lepas dari semua sejarah besar FC Barcelona yang sebagian besar saya tahu lewat dokumentasi di internet, satu nama sungguh saya kagumi. Lionel Messi. Yang entah bagaimana, saya merasa dia mewakili sebuah bakat tiada duanya dalam keterbatasan yang nyata. Disney-esque. Ayah saya, adalah pendemen sepakbola akut. Dengan pengalamannya yang panjang, beliau sering bercerita tentang idolanya, Maradona. Dan dari ceritanya, sungguh beruntung pernah menyaksikan dan ada di masa seorang legenda yang namanya abadi di sepakbola. Semua pemain sepakbola dunia yang muncul belakangan dengan prestasi yang melebihi, dengan gaya akrobat yang membuat dagu menganga, dimentahkan begitu saja dengan kalimat, “Kowe rung tau ndelok Maradona, Le..“. Sampai saat kami menonton, dengan segala argumen saya tentang keajaiban Messi, beliau masih yakin Maradona jauh lebih hebat dari Messi, yang ujung debatnya berakhir seperti kritik seluruh wartawan sepakbola: Messi belum diabadikan namanya dengan Piala Dunia. Apapun prestasi pribadi yang dia raih. Pun segala macam pertunjukan sulapannya di lapangan.

14 Juli 2014. Belum pernah saya menginginkan suatu negara untuk juara di Piala Dunia sebesar tahun ini. Toh, semua negara yang bermain juga bukan tanah kelahiran saya. Kali ini saya sungguh ingin melihat Messi diinagurasi sebagai sosok immortal di sejarah sepakbola dunia. Segala mitos seperti mendukung, gelaran di Benua Amerika, usia emas Messi, sampai mitos emulasi Maradona sebgai kapten tim. Dia layak mendapatkannya. Sekian panjang perjalanan karyanya di lapangan hijau, segala bakat dan nasib baik yang membawanya ke level ini, semua harapan dan keterwakilan anak kecil di dunia yang tidak kaya dan tidak berpostur atletis Eropa, namun bisa sampai ke final Piala Dunia melawan tim yang lengkap, canggih dan kompak depan belakang. Betapa berat beban Messi saat mengambil tendangan bebas jauh di menit akhir extra time dalam kondisi teritnggal 1 gol oleh tim yang secara kolektif bermain luar biasa, Jerman. Seperti yang saya duga. Tendangannya naik jauh di atas mistar Manuel Neuer. Messi tersenyum pahit. Seluruh dunia tahu Argentina akan kalah. Semua mitos Piala Dunia akan pecah saat ini juga. Peluit panjang ditiup wasit dan dada saya serasa pecah ingin menangis bersama anak kecil yang tampak di televisi mengenakan jersey Argentina nomor 10.

Di tanggal yang sama, seusai pertandingan. Betapa saya benci Sepp Blatter dan FIFA, yang entah memakai ide apa, justru menganugerahkan Golden Ball, gelar pemain terbaik setiap gelaran Piala Dunia kepada Messi, yang faktanya, membuat semua orang mencibir dari mana Messi bisa dapat gelar pemain terbaik? Dia anak kesayangan FIFA yang dalam kegagalannya tetap dianugerahi hadiah pribadi? Seperti pengayem-ayem buat anak kecil agar tidak ngambek. Dia tidak berhak atas olok-olok itu. Sungguh menaburkan garam di atas luka. Fuck you, Sepp! 

“THE SIGNIFICANCE OF WINNING THE GOLDEN BALL MEANS NOTHING … THE ONLY THING I WANTED TO WIN WAS THE WORLD CUP.” Lionel Messi

Inilah daya magis sepakbola. Yang terhadap penghayat teguhnya bisa sangat mengharu-biru. Sekali waktu sangat menggairahkan, menggembirakan, dan di waktu lain sangat menyedihkan. Dan tulisan ini adalah dokumentasi sentimental saya, yang akan terus menikmati sepakbola.🙂