Masih Malas Membaca?

by Pak Anggur

Cerita sepele. Tentang penggunaan gadget. Trend teknologi terkini. Perangkat asisten harian yang makin canggih. Makin mudah dan murah didapat. Setidaknya untuk kelas menengah baru Indonesia, yang definisinya juga masih diributkan pakar-pakar pertumbuhan ekonomi. Laptop adalah barang umum yang digunakan bahkan sampai ke tingkat pelajar sekolah menengah masa kini. Piranti genggam semacam Blackberry, atau produk Apple seperti iPhone dan iPad, segala macam Android, dan masih panjang lagi daftar alat-alat sesuai kegunaannya. Sungguh menyenangkan melihat orang-orang mampu membeli barang-barang itu. Suatu indikasi bahwa masyarakat kian makmur. Atau dipaksakan makmur.

Ada hal lucu yang saya temui. Di antara kalangan yang memiliki perangkat tersebut, tidak semuanya memang, entah bagaimana dalihnya adalah kalangan yang pendidikannya lulus perguruan tinggi, berhasil dalam progres yang baik bersama pekerjaannya entah sektor formal atau informal, malah gagap memaksimalkan kecanggihan teknologi yang terkandung dalam perangkat yang mampu dibelinya hanya karena hal remeh: enggan membaca, lebih jauh enggan mencari tahu. Intinya parah, malas belajar.

Banyak cerita tentang ini. Mulai dari akun twitter informasi misalnya @infojogja atau @jogjaupdate (karena saya tinggal di Jogja) kerap diberi pertanyaan yang menurut saya jawabannya bisa dicari via mesin pencari google yang pastinya tercangkok di browser yang ada di handheld-nya. Atau mungkin gara-gara dia hanya berlangganan paket gaul yang hanya bisa mengakomodasi akses internet untuk chatting dan jejaring sosial saja? Waduh, kalau begini maka parah. Parah yang menyediakan layanan dan lebih parah yang mau pakai layanan itu. Walaupun atas alasan harga murah. Ada cerita lagi, seseorang minta maaf pada orang lain  yang terlewat waktunya atas suatu janji keperluan, hanya karena lupa hingga tertumpuk urusan lainnya. Dan ketika terbaca email minta maafnya, tertulis di signature “sent from iPhone”. Lho? Kemana perginya agenda dan kalender yang bisa menjadi asisten pengingat tercatat atas keperluan itu? Jika email itu saya yang menerima, maka saya akan balas: HP anda rusak? Kenapa tidak dibawa ke tempat servis?

Seorang kawan pernah datang kepada saya dengan gadget barunya. Dia minta tolong di-setting-kan awalnya, dan diberi tips pemakaiannya. Ini tidak masalah. Berbagi itu menyenangkan. Tapi ketika setiap ada masalah sepele dia menghubungi dan bertanya ini kenapa, ini bagaimana, caranya ini gimana, saya jadi malas juga menjawabnya. Karena lama-lama hal yang ditanyakan adalah hal sepele yang jawabannya ada di manual book-nya entah tercetak entah download, bisa googling juga, atau jika dia mau memahami dengan baik dan mengeksplorasi alatnya sendiri itu, karena saya yakin setiap pengembang perangkat membuatnya semudah mungkin untuk digunakan. Dan dalam penggunanya hanya dibutuhkan kemampuan membaca, minimal mengerti Bahasa Inggris. Tapi jika sudah menyerah terlebih dulu dan kehilangan rasa ingin tahu yang memicu belajar, ya sudahlah. Mungkin yang dibutuhkan kawan saya ini adalah kursus Bahasa Inggris.😀

Tentu saja, ilmu kuno pernah ada yang bilang membaca adalah jendela ilmu. Ada kitab yang menuliskan iqra’, bacalah. Dan pernah saya dengar juga entah dari siapa saya lupa, kuasailah bahasa dan kuasailah dunia. Dalam terjemahan yang sangat luas tentunya.