RBT: Ribut!

by Pak Anggur

RBT. Ring Back Tone. I-Ring. NSP. Apalah-Tone.  Anda sudah akrab atau sering sekali mendengarnya paling tidak lima tahun terakhir. Ladang uang musisi papan atas Indonesia itu belakangan diterpa masalah. Beberapa selebriti musisi membuat aksi individual atau berkelompok untuk menolak isu terbaru dari Badan Regulasi Teknologi Indonesia dan Kemenkominfo yang akan menghentikan layanan RBT karena semakin  tingginya aduan masyarakat atas kejahatan para penyedia konten via SMS premium dan semacamnya dengan modus berlangganan yang tidak jelas sehingga terjadi perampokan atas uang pengguna jasa telefon seluler melalui pemotongan pulsa, yang nilainya bisa anda bayangkan sendiri jika ditarik secara kolektif dari sekian pengguna telefon seluler. Pulsa hilang secara gaib seperti disikat tuyul, sayangnya masyarakat sudah sangat terlambat menyadari hal ini.

Banyak pihak menuding pemerintah meruncing pada Menkominfo adalah salah satu pihak yang bersalah atas pembiaran hal ini terlalu lama. Dan kesan bahwa badan kementrian yang mengurusi hajat vital masyarakat masa kini itu membuat keputusan dengan metode “membakar seluruh rumah untuk membunuh tikus”. Konten dari provider tidak semuanya berwujud RBT. Ini yang disambatkan banyak pelaku industri musik yang dijual reff atau intro-nya saja.

Yang saya lebih sesalkan sebenarnya bukan pengampu kebijakan negara ini. Tak usah dibahas lah bagaimana kinerja pemerintah selama ini. Saya justru kagol dengan para pelaku industri musik sendiri, terutama musisi. Mereka berteriak-teriak di media (karena ini adalah corong terbaik mereka), sampai beberapa perwakilan musisi hendak menemui DPR guna mengadu. Yang pastinya, DPR dengan sukacita akan menerima hal-hal yang bisa menambah jam rapat mereka agar tidak tampak selo dan blah-bloh. Kenapa musisi-musisi itu baru marah ketika tambang uang terbesar mereka setelah pembajakan dibiarkan pemerintah yang berakibat hancurnya penjualan kopian lagu via kaset dan CD itu dihentikan? Takut kehilangan banyak uang di situ sehingga tidak bisa hidup bermewah-mewah lagi? Tidak bisa tampil glamour lagi? Memang, menghidupi diri sendiri dan berusaha hidup layak bahkan makmur adalah tujuan setiap manusia. Usaha apapun asal tidak merugikan orang lain sah dilakukan. Halal. Disini poinnya. Kenapa musisi-musisi itu tidak berkoar ketika tahu bahwa uang pelanggan layanan seluler yang adalah juga penggemar mereka, yang membeli produk mereka, yang mengunduh RBT mereka, yang menonton konser mereka, hilang tanpa penjelasan yang masuk akal. Ketika yang rugi lapisan di bawah mereka kenapa diam? Belum terasa efeknya, heh? Belum lagi banyaknya kasus, yang saya saksikan sendiri pada kawan saya, tiba-tiba kawan saya dapat SMS konfirmasi dari operator telko bahwa dia sudah berlangganan sebuah lagu dari band papan atas Indonesia di HP-nya, dan pulsanya sudah terpotong sekian rupiah tanpa dia pernah merasa mengaktifkan kode-kode itu. Musisi tidak pernah dengar hal ini? Bohong! Hanya diam kan? 

Saya pribadi, setuju jika layanan seluler via SMS premium terutama RBT dihentikan. Karena, jika dikembalikan ke khittah-nya, musisi adalah artis adalah seniman bebunyian, yang bekerja dengan segala kreatifitasnya untuk menciptakan karya, dan unit-unit pendukungnya ketika sudah masuk ke ranah industri adalah juga bekerja dengan segenap kreatifitas yang dituangkan dalam strategi bagaimana menjual karya-karya itu. Bukan karena ladangnya dibakar lantas merengek seperti anak kecil direbut permennya, sedang ketika kawannya tak makan permen dia diam saja. Banyak kawan musisi yang berhasil tidak lewat jalur RBT. Tapi jika menurut anda satu-satunya ukuran kesuksesan adalah sebesar apa rupiah yang didapatkan, maka saya sarankan anda belajar ilmu klasik: legawa setelah berusaha.

Dan yang lebih dalam lagi, RBT adalah temuan semacam pragmatisme pasar yang secara produk sangat lemah. Saya tidak rela, jika saya adalah seorang penikmat musik sungguhan, saya membayar sekian ribu rupiah untuk musik yang tidak saya dengarkan. Dan ketika orang lain mendengarkan ketika menelefon pun, lagu yang ditampilkan tidak utuh, hanya reffrain, intro, atau bagian mana yang katanya produser adalah bagian terbaik lagu tersebut. Sebab itu, saya tidak pernah dan tidak akan mau pasang RBT di HP saya.