Kesuksesan Dibalik Seragam Tim

by Pak Anggur

Sukses seorang pemain sepak bola tergantung chemistry-nya dengan jersey klub yang dibelanya. Anda boleh percaya boleh tidak. Hanya saya juga tidak bisa dan agak malas juga jika diminta pertanggungjawaban apalagi yang empiris dan kepintar-pintaran. Ini dirasakan dengan intuisi, ilmu titen, othak-athik-gathuk dan terawangan tingkat entah. Disini jelas diabaikan faktor klub yang berhubungan dengan pemainnya, sekaya apa klub itu, sesukses apa klub itu sebelum pemain itu datang, dan bagaimana hubungan pemain dengan pemain lainnya, dan seterusnya dan seterusnya. Hanya menyorot kepantasan pemain dan seragamnya, lalu apa efek terhadap kesuksesannya. Yang disebut sebagai kesuksesannya pun tidak diukur dengan skala prestasi mata uang resmi sepak bola seperti gol, trofi dan penghargaan personal yang dibandingkan dengan pemain lain, yang dibandingkan adalah grafik naik turun bola nasib pemain itu gara-gara jersey yang dikenakannya. Gara-gara kepindahan yang dilakoninya. Atas alasan apapun.

Sungguh, seragam yang pantas dengan si pemain membawa ramalan baik dan doa-doa alam semesta. Pantas artinya ketika dikenakan, maka pamor sang pemain seperti menyala-nyala, tampak lebih gagah, nyaman dan luwes dipandang. Contoh konkrit, Fernando Torres.

Fernando Torres berseragam Atletico Madrid

Fernando Torres Berseragam Liverpool

Fernando Torres berseragam Chelsea

Bisa dilihat, kan? El Nino tampak lebih keluar pamornya, tampak lebih bersemangat dan meledak ketika berseragam Liverpool. Lebih baik daripada ketika berseragam Atletico Madrid, apalagi di Chelsea. Tentu saja anda dapat dengan mudah mendebat saya dengan delik kualitas foto, angle yang diambil, suasana saat difoto, apapun itu dan saya juga enggan mendebat anda balik.   Nah, hubungan performa dengan seragam? Dia dipuja suporter Anfield, dibikinkan chant, mencetak banyak gol walaupun gagal memenangkan trofi-trofi penting. Saat memutuskan pindah ke Chelsea, malah jadi mandul dan semacam pembawa sial, gagal mencetak gol di gawang terbuka saat melawan Manchester United, termasuk mendapat kartu merah akibat pelanggaran tidak penting di pertandingan sesudahnya.

Masih banyak contoh kalau anda sepakat dan dianugerahi juga terawangan visual asal-asalan, ada Michael Owen yang malah jadi cidera berkepanjangan dan seret karirnya saat berseragam el-merengue Real Madrid. Ada Andriy Shevcenko yang seperti kehilangan seluruh ilmu menjebol gawang ketika melepaskan seragam AC Milan. Sebaliknya, pemain yang istilah jawanya kalung usus seperti David Beckham, yang keunggulan fisiknya adalaha serba pantas disandangi apapun, maka dia sukses di Manchester United, di Real Madrid, bahkan di LA Galaxy setidaknya sukses berkawan dengan Tom Cruise sehingga punya jalan untuk mendapatkan peran di film Hollywood.

Dan ini info untuk anda yang tidak percaya, saya sudah memikirkan bagaimana karir orang-orang yang saya sebutkan tadi, sejak pertama saya lihat foto pemain ketika diperkenalkan dalam seragam barunya. Anda masih tidak sepakat? Ah, mungkin anda terlalu serius.🙂