Berita Pengangguran

Mengudar gagas untuk menghambat kemunduran.

Lara Londo!

Orang Jawa kebanyakan, dan masih sering digunakan dalam bahasa sehari-hari, menggunakan istilah londo untuk mengacu pada orang bule yang berasal dari Eropa, Amerika atau bahkan asal agak jauh di luar negeri dan berkulit putih. Yang kadang lucunya jadi ada Londo Prancis, Londo Jerman, Londo Spanyol bahkan Londo Jepang. Padahal mungkin dulu asal kata londo sendiri untuk menyebut penjajah berambut pirang berkulit putih, orang Belanda, lantas melebar semua kulit putih itu londo.

Lara londo disini tidak diarahkan pada penyakit karena londo, atau orang asing yang sakit, atau yang berhubungan dengan sakit secara fisik yang berhubungan dengan kulit putih asal Eropa atau Amerika. Pastinya ada teman anda atau bahkan anda sendiri yang sempat tinggal dan menikmati kehidupan di luar negeri. Atas beberapa tujuan dan alasan, sekolah, kerja, menikah dan berkeluarga dengan orang sana, banyak lagi. Sungguh beruntung dan adalah pengalaman yang tidak semua orang bisa mengalami. Istimewa sekali tentu saja. Saya salut.

Yang saya tidak salut, bahkan eneg, adalah perilaku sebagian orang yang saya temui sepulang ke tanah air. Tidak semua memang. Orang tersebut lantas membandingkan kehidupan disana yang tentu saja lebih maju, lebih tertata, dengan keadaan disini. Bercerita tentang pengalaman disana pastinya menyenangkan untuk pendengar udik macam saya. Tapi jika lantas dibanding-bandingkan terus menerus dengan nada nyinyir dan malah seperti menghina bangsa sendiri lama-lama jadi mules juga. Memang kondisi disini harus diperbaiki, dengan referensi dari luar negeri juga tidak masalah, tapi janganlah lantas ketika menemui jalanan banjir di Sagan terus bilang, “Fuck! Di Paris nggak begini!”. Keadaan ini harusnya diperbaiki, jangan dibandingkan.

Lantas, yang lebih bikin geli adalah perilaku berbahasanya. Hanya karena 3-4 tahun berada di Eropa, lantas bahasa yang dipilih jadi campur-campur, lengkap dengan ekspresi macam londo juga,  semisal, “Eh, kemahalan deh. Nggak worth it.”. Atau spontan ketika kaget lebih memilih umpatan “Shit!”  atau “Oh my God”  ketimbang “Asu!” atau “Jancuk!” atau “Naskleng!”. Hei, secepat itukah istilah dan bahasa yang dipelajari sejak kecil disini hilang dan lupa padanannya dalam bahasa kita? Hanya dengan 3-4 tahun? Saya yakin belajar berbahasa itu seperti bersepeda atau berenang. Sekali pernah mahir, tidak akan hilang kecuali ada gangguan yang sangat khusus, misalnya fisik atau syaraf. Jadi menurut saya orang itu semacam ingin menunjukkan bahwa dia sudah lebih unggul dalam hal pernah ke luar negeri untuk tinggal. Kemaki.

Tidak semua, sekali lagi. Beberapa kawan yang malah jauh lebih sering dan lebih lama melanglang buana di negeri jauh bisa tetap kembali medhok waktu berada di Indonesia, dan sangat fasih berbahasa asing ketika ada telefon dari luar negeri. Dan menurut saya, medhok  itu identitas, dan seksi. Jadi saya tidak setuju jika gaya bicara medhok itu jadi bahan candaan yang kadang menghina. Hal ini terutama sering dialami kawan-kawan yang gaya bicaranya ala Banyumasan alias ngapak.

Masih Malas Membaca?

RBT: Ribut!

Kesuksesan Dibalik Seragam Tim

LATILOG: Lalu Lintas – Etika – Logika (1)